Menu

Mode Gelap

Keislaman · 2 Apr 2023 02:53 WIB ·

AL-BAHR AL-MUHITH KARYA IBN HAYYAN


 mevlana museum and whirling dervish Perbesar

mevlana museum and whirling dervish

finaninsia – Bagi kaum muslim al-Qur’an selain di anggap sebagai kitab suci, ia juga sebagai kitab petunjuk. Oleh karena itu, al-Qur’an sering dijadikan rujukan dan mitra dialog dalam menyelesaikan beberapa problem dalam kehidupan yang mereka hadapi.

Al-Qur’an benar-benar bukan hanya menempati posisi sentral dalam perkembangan ilmu-ilmu keislaman, melainkan juga menjadi inspirator dan pemadu gerakan dan dinamika umat islam.

Dengan panggilan Abu Hayyan al-Andalusi beliau adalah salah satu mufasir, beliau juga mengarang kitab tafsir yaitu Al-Bahr al-Muhith, sebuah kitab tafsir yang sangat terperinci penafsirannya mulai dari

nahwu,  balaghoh,  Asbabun Nuzul ketika ada ayat yang mengandung

asbabun nuzul, nasak>  h dan lain sebagainya. Oleh karena itu penulis ingin mengkaji  tentang  kitab Al-Bahr Al-Muhit> h  untuk  memperluas  wawasan dan lebih mengetahui apa saja yang di jelaskan dalam kitab ini kemuadian menelaah dengan membahas biografi, metode penafsiran, sumber penafsiran corak penafsiran.

AL-BAHR AL-MUHITH KARYA IBN HAYYAN

1. Biografi Ibnu Hayyan

Nama lengkap beliau adalah Atsiruddin  Abu Abdillah Muhammad ibn Yusuf ibn Ali ibn Yusuf ibn Hayyan al-Gharnati  al-Andalusi al-Nifdzi al-Jayyani al-Maghribi  al-Maliki Asy-Syafi’i.

Beliau dilahirkan pada akhir bulan Syawal pada tahun 654 H tepatnya pada bulan november tahun 1256 M di Mathkharisy.1 Dan sempat terjadi perselisihan pendapat antara ibn As-Subki dan Ibn Al-‘Imad dalam menentukan tempat kelahirannya, apakah beliau dilahirkan di kota jaen atau mathkharaisy.

Meskipun kedua kota tersebut pada hakikatnya berada sibawah kedudukan Granada pada saat itu. salah satu sebuah Bandar, dalam suku puak Nifdzah. Beliau yang lebih dikenali dengan panggilan Abu Hayyan al-Andalusi, diberdasarkan di tenggah lingkungan dari keluarga dan masyarakat yang hidup dalam kepatuhan yang tinggi terhadap ajaran islam.

Abu Hayyan al-Andalusi mendapat pendidikan awal di bawah didikan ayahnya. Beliau mula menghafal al-Qur’an pada usia muda. Setelah itu, beliau memperbetulkan hafalan dan bacaannya kepada sejumlah ulama yang masyhur pada zaman tersebut, seperti as-Syeikh al- Khatib  Abdul  Haq  ibn  Ali ibn  Abdullah  al-Ansari  dan  al-Khatib  Abu Jaafar ibn al-Thiba’i.

Kemudian beliau mendalami ilmu Qiraat di bawah bimbingan al-Hafiz Abu Ali ibn Abu al-Ahwas di Maliqah dan al-Khatib Abdul Haq al-Ansari, bacaan tujuh Qiraat secara ifrad dan jamak.

Al-Andalusi juga gemar berkelana dan berhijrah untuk menuntut ilmu ke merata tempat dan negara. Misalnya, al-Andalus, Afrika, Iskandariyah, Mesir, dan Hijaz. Di sana, beliau berguru dengan para cendekiawan Islam lebih 450 ulama.

Di antaranya ialah Abu al-Hasan ibn Rabi’, Ibn al-Ahwas, al-Qutb al-Asqalani, al-Syarf ad-Dumyathi, dan lain-lain lagi. Banyak bidang dan disiplin ilmu yang dipelajari oleh Abu Hayyan, seperti ilmu Tafsir, hadits, qira,ah, bahasa Arab, sastra, dan sejarah islam.

Beliau wafat di mesir pada tahun 745 H, beliau selalu dikenang dan disemat dalam tinta sejarah islam atas karakternya yang menawan dan kepribadian yang tinggi.

2. Karya-karya Abu Hayyan

Abu Hayyan al-Andalusi menghasilkan banyak karya yang bertebaran di berbagai penjuru dunia pada saat beliau masih hidup atapun setelah beliau meninggal, diantara karya-karyanya adalah:

  1. Al-Bahr al-Muhith
  2. Al-Nahr al-Madd min Bahr al-Muhith (ringkasan dari kitab al-Bahr al-Muhit h)
  3. Ittihaf al-Arib bima fial-Qur’an min al-Gharib
  4. Al-Tajzyil wa al-Takmil fiSarh al-Tashil
  5. Gharib al-Qur’an
  6. Manzuhumah ‘ala Wazn al-Syathibiyah fi al-Qirat
  7. Lughat al-Qur’an
  8. Dan masih banyak lagi karya Abu Hayyan yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu.

3. Seputar Kitab Al-Bahr Al-Muhith

Sepanjang perjalanan hidupnya, Abu Hayyan sangat bercita-cita untuk menulis sebuah kitab tafsir, ketika beliau menjadi seorang guru tafsir di Madrasah Qubbah Sultan Malik Mansur pada usia 57 tahun tepatnya pada tahun 710 H.4Mulailah beliau merealisasikan keinginannya, dan proses penulisan tafsir al-bahr al-muhith ini meripakan kitab akhir dari penulisan karyanya. Kitab al-Bahr al-Muhit terdiri dari 8 jilid besar, telah di cetak dan beredar di kalangan ahli ilmu.

Kitab ini tergolong rujukan pertama dan terpenting bagi yang ingin menjalani sisi-sisi i’rab dalam lafadz al- Qur’an. Karena sisi-sisi nahwu pada tafsir ini lebih menonjol dibanding yang lain. Saat membahas sisi nahwu dalam kitab ini, ia menjadi ‚putra‛ bagi ilmu ini. Beliau telah memperbanyak membahas masalah nahwu dan khilafiyah antara ulama dibidang ini.

Di dalam kitab tafsir ini, beliau cenderung memperluas perhatiannya untuk menerangkan wajah-wajah i’rab dan masalah-masalah nahwu, bahkan cenderung memperluasnya karena beliau mengemukakan, mendiskusikan dan memperdebatkan perbedaan pendapat di kalangan ahli nahwu, sehingga kitab ini lebih dekat ke kitab-kitab nahwu dari pada ke kitab-kitab tafsir.

Beliau juga mengutip pendapat para ulama dalam masalah- masalah fiqih yang memiliki keterkaitan dengan lafadz-lafadz yang ditafsirkan tersebut, baik dari empat Imam mazhab maupun lainnya, di samping argumen-argumen lain yang terdapat di dalam kitab-kitab fiqih. Berkiatan dengan kisah-kiasah Israiliyat, ternyata Abu Hayyan juga banyak mengutip dalam kitabnya. Diantara kisah-kisah Israiliyat

yang dikutip, yang sebenarnya berstatus maudhu’ (palsu) –walaupun hanya sepintas- adalah riwayat tentang batu nabi Musa, Daud dan Istrinya, begitu juga kisah kaum Iram atau Arim (kaum nabi Hud) disinyalir sebagai riwayat yang Bathil.

Dalam hal ini Abu Hayyan dianggap tidak konsisten, karena dalam mukadimah kitabnya beliau mengatakan ‚cerita-cerita atau kisah-kisah Israiliyat yang tidak sesuai dengan syari’at dan akal sehat sangat tidak layak disebutkan dalam ilmu Tafsir‛.

Sementara beliau terkadang melanggar pernyataannya sendiri, misalnya ketika menceritakan kisah Harut dan Marut. Namun begitu, dalam kaitan ini Abu Hayyan hanya mendasarkan pada apa yang dianggap benar oleh Ibn ‘Athiyah. Sementara dalam penafsirannya sendiri beliau tidak menganggap.

Di dalam tafsir ini juga Abu Hayyan memasukan hadis-hadis dha’if yang mana diriwayatkan oleh seorang yang tidak tsiqqah. Ini beliau cantumkan hanya memberi keterangan kepada pembaca untuk tidak terpedaya dengannya. Hal ini juga sangat sedikit dan jarang sekali dijumpai. Selain itu juga Abu Hayyan dikenal banyak menulis syair-syair yang indah dalam Tafsirnya yang menjadikannya termasuk dalam golongan ahli hikmah.

4. Metode Penafsiran

Dalam metode penafsiran Abu Hayyan, beliau menggunakan metode tahlili, yaitu metode penafsiran yang ,menjelaskan ayat demi ayat, surat demi surat, yang sesuai dengan tata urutan mushaf utsmani dan dengan penjelasan yang sangat terperinci.

Model ini perupaya untuk menyajikan pembahasan seluruh segi dan isi dari sebuah atau sekelompok ayat (atau surat). Didalamnya melibatkan kosakata (mufradat), strukutr (gramatika) bahasa, pembahasan linguistik, makna keseluruhan, munasabah, pemanfaatan asbab an-nuzul, dan hadis. Penyimpulan prinsip-prinsip umum serta pemanfaatan pengetahuan lainnya yang dapat membantun pemahaman nash Al-Quran.

Adapun uslub pembahasan  yang  digunakan  Abu  Hayyan  didalam Tafsir menggunakan beberapa langkah sebagai berikut:

  1. Menjelaskan mufradat (kata-kata) pada setiap bagian ayat dalam setiap permulaan Sebagaimana penjelasan Abu Hayyan ketika menerangkan arti iman didalam ayat berikut:

ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ

الإيمان التصديق وما انت بمؤمن واصله من الإيمان أو من الأمنة ومعنها الطمأنينة ومه صدقه وامن به وثق به والهمزة في أمن للصيرورة كأعشب أو لمطاوعة فعل كأكب وضمن معنى الأعتراف أو الوثقوق فعدي بالباء وهو يتعدى بالباء ولام فما آمن لموسى والتعدية باللام في ضمنها تعدى بالباء فهذا فرق ما بين التعديتي

Begitupun ketika Abu Hayyan menjelaskan secara rinci pembahasan tentang fungsi huruf ba yang terdapat didalam baslamah:

بسم الله الرحمن الرحيم: باء الجر تأتي لمعان: للإلصاق، والاستعانة، والقسم، والسبب، والحال، والظرفية، والنقل. فالإلصاق: حقيقة مسحت برأسي، ومجازاً مررت بزيد. والاستعانة: ذبحت بالسكين. والسبب: فبظلم من الذين هادوا حرمنا: النساء: 160. والقسم: بالله لقد قام. والحال: جاء زيد بثيابه. والظرفية: زيد بالبصرة. والنقل: قمت بزيد. وتأتي زائدة للتوكيد: شربن بماء البحر. والبدل: فليت لي بهم قوماً أي بدلهم. والمقابلة: اشتريت الفرس بألف. والمجاوزة: تشقق السماء بالغمام أي عن الغمام. والاستعلاء: من أن تأمنه بقنطار. وكنى بعضهم عن الحال بالمصاحبة، وزاد فيها كونها للتعليل

2. Menjelaskan seputar asbab an-nuzul ayat (surat) jika ada/ayat tersebut diturunkan karena sabab.
3. Menjelaskan persoalan nasakh mansukh.
4. Menjelaskan tentang munasabah diantara ayat.
5. Menyajikan pembahasan seputar qiraat baik itu yang mutawatirah ataupun yang syadz

5. Bentuk Penafsiran

Tafsir Bahr al-Muhi>th merupakan corak penafsiran bil Ra’yi, Abu Hayyan al-Andalusy juga mempunyai pengetahuan yang luas tentang bahasa, tafsir, hadist, riwayat tokoh-tokoh hadist dan tingkatannya terutama tokoh-tokoh yang hidup di barat, Abu Hayyan mempunyai banyak karangan dan yang terpenting adalah kitab tafsirnya.

Di dalam tafsir Bahr al-Muhith Abu Hayyan banyak mencurahkan perhatian untuk menerangkan wajah-wajah irab dan masalah–masalah nahwu, bahkan cenderung meperluasnya karena ia mengemukakan, mendiskusikan dan meperdebatkan perbedaan di kalangan ahli nahwu sehingga kitab ini lebih dekat ke kitab-kitab nahwu dari pada ke kitab-kitab tafsir.

Dalam tafsir ini Abu Hayyan banyak mengutip dari tafsir Zamakhsyari dan tafsir Ibnu ‟Atiyah, terutama yang berhubungan dengan masalah nahwu dan I’rab dan seringkali ia mengakhiri kutipannya dengan sanggahan, bahakan terkadang pula ia menyerang Zamakhsyari meskipun di lain segi ia memujinya karena keterampilanya yang menonjol dalam menyingkap retorika (balaghah) Qur’an dan kekuatan bayannya.

6. Corak Penafsiran

Tafsir Al-Bahr Al-Muhith tergolong merupakan kitab tafsir yang lebih menonjolkan sisi-sisi kebahasaan (lughawi).

Di dalam kitab tafsir ini, beliau cenderung memperluas perhatiannya untuk menerangkan aspek i’rab dan masalah-masalah nahwu.

Saat membahas aspek kebahasaan dalam kitab ini pembaca bisa menilai bahwa penulis merupakan pakar dan sangat ahli dibidangnya.

Karena sisi-sisi nahwu pada tafsir ini lebih menonjol dibanding yang lain. Abu Hayyan telah memperbanyak membahas masalah nahwu dan khilafiyah antara ulama dibidang ini, bahkan cenderung memperluasnya karena beliau mengemukakan, mendiskusikan dan memperdebatkan perbedaan pendapat di kalangan ahli nahwu, sehingga kitab ini lebih dekat sebagai representasi dari kitab nahwu dari pada kitab tafsir.

Beliau juga mengutip pendapat para ulama dalam masalah-masalah fiqih yang memiliki keterkaitan dengan lafadz-lafadz yang ditafsirkan tersebut, baik dari empat Imam mazhab maupun lainnya, di samping argumen- argumen lain yang terdapat di dalam kitab-kitab fiqih.

7. Sumber Penafsiran

Abu Hayyan dalam menyusun tafsirnya tidak lepas dari berbagai referensi kitab kitab klasik lainnya. Hal ini beliau lakukan demi mewujudkan Kitab ini sesuai dengan namanya al-Bahr al-Muhit.

Referensi-referensi tersebut bersumber dari berbagai disiplin ilmu selama masih terkait dengan Wawasan Tafsir. Ini bukan berarti penulisan kitab Bahrul Muhit seutuhnya atas landasan kitab-kitab terdahulu. Namun, Abu tidak jarang juga beliau melakukan kritikan terhadap kitab-kitab tersebut.

Beliau hanya melakukan penilaian atas kitab-kitab terdahulu dan mengambilnya yang beliau yakini serta membantahnya yang dianggapnya salah dengan landasan Al-Quran dan Hadis.

Dalam banyak hal beliau berpedoman pada kitab At-Tahrir Wa al- Tahbir  li>  Aqwali  A’immatit  Tafsir,  karya  gurunya  Jamaluddin  Abu Abdillah Muhammad bin Sulaiman al-Miqdasi yang terkenal dengan Ibnu Naqib.

Dalam tafsir ini juga Abu Hayyan banyak mengutip dari tafsir Az Zamakhsyari dan tafsir Ibn ‘Athiyah, terutama yang berhubungan dengan masalah nahwu dan ‘irab.   Meskipun banyak yang ditolak dari pendapat ibn ‘Athiyah ini, akan tetapi harus jujur dikatakan bahwa tafsir Ibn ‘Athiyah telah memberi manfaat besar bagi Abu Hayyan.

Abu Hayyan tidak menyukai paham ke Mu’tazilahan Az Zamakhsyari. Karena itu ia mengkritik dan menyanggahnya dengan gaya bahasa yang sinis.

Dan seringkali ia mengakhiri kutipannya dengan sanggahan, bahkan terkadang pula beliau menyerang Zamakhsyari dengan gencar, walaupun di sisi lain beliau memujinya karena keteramapilan nya yang menonjol dalam menyingkapkan retorika (Balaghah) Qur’an dan kekuatan bayan nya.

Baca Juga: Syarat Menjadi Khalifah dalam Islam

Kesimpulan

Berdasarkan rumusan masalah diatas dapat disimpulkan sebagai berikut:

Nama lengkap Abu hayyan yaitu, Atsiruddin Abu Abdillah Muhammad ibn Yusuf ibn Ali ibn Yusuf ibn Hayyan al-Gharnati al-Andalusi al-Nifdzi al-Jayyani al-Maghribi al-Maliki Asy- Syafi’i.

Beliau lahir pada akhir bulan syawal tahun 654 H tepatnya pada bulan november 1256 M di Beliau sempat menjadi guru tafsir di Madrasah Qubbah Sultan Malik Mansur pada usia 57 tahun.

Dan beliau wafat di Mesir pada tahun 745 H. Seputar tentang kitab karangan beliau yaitu kitab al-Bahr al- Muhith, kitab ini terdiri dari 8 jilid besar, telah di cetak dan beredar di kalangan ahli ilmu.

Kitab ini tergolong rujukan pertama dan terpenting bagi yang ingin menjalani sisi-sisi i’rab dalam lafadz al-Qur’an.

Karena sisi-sisi nahwu pada tafsir ini lebih menonjol dibanding yang lain. Karya-karya Abu Hayyan sebagai berikut:

    1. Al-Bahr al-Muhith
    2. Al-Nahr al-Madd min Bahr al-Muhith (ringkasan dari kitab al- Bahr al-Muhith)
    3. Ittihaf al-Arib bima fi al-Qur’an min al-Gharib
    4. Al-Tajzyil wa al-Takmil fi Sarh al-Tashil
    5. Gharib al-Qur’an
    6. Gharib al-Qur’an
    7. Manzuhumah ‘ala Wazn al-Syathibiyah fi al-Qiraat
    8. Lughat al-Qur’an

Dan masih banyak lagi karya Abu Hayyan yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu.

Baca Juga: Doa teguh pendirian

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 5 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Sejarah Perkembangan Tasawuf, Abad Ketiga, Keempat, Kelima, Keenam, Ketujuh, Kontemporer

17 April 2023 - 03:07 WIB

Sejarah Perkembangan Tasawuf, Abad Ketiga, Keempat, Kelima, Keenam, Ketujuh, Kontemporer

Mengapa Beriman Kepada malaikat Allah Mendorong Kita Gemar Bersedekah

12 April 2023 - 00:55 WIB

Mengapa Beriman Kepada malaikat Mendorong Kita Gemar Bersedekah

Beriman Kepada Allah: Pengertian, Dalil-Dalilnya, Ciri-Ciri Beriman

7 April 2023 - 15:44 WIB

Beriman Kepada Allah: Pengertian, Dalil-Dalilnya, Ciri-Ciri Beriman

Aqidah : Pengertian, Sumber – Sumber dan Hukum Mempelajarinya

7 April 2023 - 15:00 WIB

Aqidah : Penegrtian, Sumber-Sumber dan Hukum Mempelajarinya

Tanda – Tanda Isim, Tanda Fiil, Tanda Huruf dan contohnya

5 April 2023 - 00:44 WIB

Tanda Isim, Tanda Fiil, Tanda Huruf dan contohnya

Pengertian Kalam, Pembagian Kalam, Contoh Kalam

4 April 2023 - 21:54 WIB

Pengertian Kalam dan Pembagian, Contoh Kalam
Trending di Keislaman